Kamis, 07 Januari 2010

beruntungnya kita......

26 juni 09

Jumat pagi menjelang siang.
Adikku memanggil-manggilku dari arah belakang rumah.
"Apa Wil?"
"Itu lho ada tukang kelapa muda, dipanggil. "
Diutuslah aku membeli kelapa muda yang lewat depan rumah, dua buah.
“Bang! Kelapa!”
“Tunggu sebentar ya bang”, aku masuk lagi ke dalam rumah.
“Bang, mecah dua yang muda dan yang daging buahnya tebal ya!”, pintaku sambil menenteng panci keluar rumah.
“Oke!”, kata si abang tukang kelapa muda.
" tuk tuk tuk!" si abang memilah-milah sambil mengetuk-ketuk kelapa yang akan dibelahnya.
"Anaknya ibu sini ya neng?", tanyanya sambil menolehkan kepalanya ke arah rumah.
"Iya mas", aku sendiri bingung tadi bilang bang, sekarang mas.
"Klo yang cwo, neng ?"
"Yang item atau yang putih?", aku balik tanya.
“Nggak tau juga, yang item kayaknya”, sambil mengerok kelapa pertama yang baru dibelahnya.
“Oh itu adik”.
“Perasaan tinggian adiknya?”, kali ini sambil melirik ke arahku.
“Ya namanya juga dah ge de mas”, keki juga nih secara ga langsung dibilang pendek.
“Klo yang putih? Kakaknya ya?”
“Iya”, jawabku singkat.
“Ibunya jarang keliatan neng. Biasanya ibunya yang keluar. Kemana?”
Ada kok di dalam.”
“Kuliah ya neng?”, masih tetap sambil sibuk dengan kelapa yang dipegangnya.
“Iya.”
“Lagi libur? Biasanya ga kelihatan. Di dalam terus ya, pulang kuliah belajar »,katanya sambil senyum.
"Bukannya ga kelihatan sih, tapi pulang sore.”
“Gimana sih enaknya kuliah?”, aku terhenyak dengan pertanyaan sepelenya ini.
“Ya kayak sekolah mas, belajar. Tapi menurutku sih lebih enak SMA.
“Masa? Jurusan apa?”
“Manajemen…”, jawabku setengah.
“Wah banyak duit nih klo dah lulus. Semester berapa?”
“Amiiiiin. Semester 4.”
“Dua semester lagi lulus donk. Gue sih juga dulu pengennya kuliah", oh dalam hati kaget juga aku dengan ‘gue’ yang tiba-tiba ini.
"Tempat saya murah kok mas”, aku coba menawarkan membuka harapan.
“Murah”, ada nada sinis di suaranya.
"Duit kuliah mah mahal, orang tua ga ngebolehin. Ya udah sekarang paling penting sih cari duit.”
“Lulusan mana mas? 45?”, aku mencoba menebak.
“Gue dari jawa. Maunya ke sini pengen kuliah, tapi ga jadi. Gue tuh lulusan angkatan tahun 2004/2005 ", dia melirikku, tapi kemudian matanya kembali ke buah kelapa yang dipegangnya.
"Ya klo dulu lulus SMA langsung kuliah mungkin sekarang dah wisuda."
Sesaat aku mengamati wajahnya. Jika diamati dengan seksama ternyata memang dia masih muda. Mungkin sekitar sebaya dengan kakakku.
"Dari SMA gue suka banget sama pelajaran Akuntasi, Geografi. Pokoknya gue paling suka sama Akuntansi deh. Dulu pengennya kuliah di sekolah tinggi akuntansi itu."
"Oh STAN ya mas. Disitu kan gratis.", selaku.
“Iya gratis, tapi kuliah disana biaya hidupnya yang mahal.
Sehari-hari duit dari mana klo kuliah disana”.
"Ya klo nge-kos emang mahal sih jadinya, tapi udah sempet ikut tes masuknya?", dia menggeleng.
"Kursus aja mas, klo kuliah mahal », aku mencoba kemungkinan lain. « Terus nanti ngelamar kerja dimana, gitu".
Tak ada jawaban.
"Gue itu jadi montir bisa. Tapi montir panggilan,klo ada panggilan ya kerja, klo ga ada yang dagang gini », aku mendengarnya sambil melihatnya kelapa keduaku yang ada di tangannya.
"gue juga dulu pernah narik mikrolet (ups aku lupa mikrolet atau metromini). Tapi capek, kerja dari jam 4 pagi pulang malem tapi sebulan cuma dapet empat ratus ribu, siapa yang tahan begitu". Aku speechless.
Kelapa muda keduaku selesai dan ada ibu-ibu dengan kedua anaknya ingin beli juga. Obrolan selesai begitu saja. "Makasih ya mas", kataku. "Iya sama-sama", jawabnya sambil melayani ibu tadi.
Ah sayang aku ga menanyakan siapa namanya. Setelah ku bayar, aku masuk ke rumah dan dia pun pergi.
Mungkin kalian bingung apa maksud cerita ini. Ini kisah nyata yang baru saja aku dengar langsung dari seseorang yang sebenarnya punya keinginan tulus untuk bisa melanjutkan sekolahnya.
Yang aku lihat, dari cara bicaranya dia orang yang pintar. Hanya saja dia ga seberuntung kita yang masih bisa meneruskan sekolah.

Manusia memang terlahir dengan proporsi yang sama. Kita punya akal, pikiran, dan nafsu. Yang berbeda dari kita hanya keadaan. Ini kedua kalinya aku bertemu dan setelah aku ngobrol dengan mas penjual kelapa muda tadi, aku sadar betapa beruntungnya kita masih bisa kuliah, masih bisa main, masih bisa online, apapun. Toh kita masih saja sering mengeluh tentang hal-hal sepele. So, mungkin dari pengalamanku ini bisa membuat kita lebih bersyukur dan bersikap lebih dewasa.